Assalamu’alaikum Dunsanak MB,
Kamis Sore lalu, tanggal 26 Mei 2026, kami ditelpon oleh orang tak dikenal yang mengaku bernama ibu okta, tinggal di Bandung. Ibu Okta adalah ibu dari dua orang anak asal batak dan bersuamikan Rino yang sudah 2 bulan tidak bisa bekerja / berjualan. Beliau mengaku tidak punya tempat lagi untuk mengadu, beberapa pihak sudah di datangi tapi belum ada hasil. Ada yang menyarankan agar menghubungi Minang Bandung sehingga akhirnya menghubungi kami.
Setelah mendengar permasalahannya kami meminta anggota MB yang domisili di bandung untuk mendatangi dan mencari info lebih detail tentang permasalahannya. Alhamdulillah Deddy Wibowo bisa mendatangi keluarga Rino di tempat tinggalnya. Berikut laporan dari Deddy ;
Izin melaporkan hasil kunjungan yo Da @Abrar
Tentang Rino dan Okta
Sepasang suami istri muda ini tinggal di sebuah kontrakan seharga Rp 900 ribu perbulan, yang harusnya mereka bayar pertahun. Namun karena kebaikan hati pemilik rumah, akhirnya mereka diizinkan bayar perbulan. Dan saat ini kondisi kontrakan menunggak 2 bulan memasuki bulan ke-3, dan mereka saat ini hanya diberi waktu seminggu untuk melunasi.
Kontrakan dengan luas kurang lebih 5 m x 5 m yang didalamnya bersatu antara ruang tamu, 1 buah kamar, kamar mandi dan dapur itu cukup bersih dan terawat.
Rino dan Okta dikaruniai 2 orang anak. 1 orang putra berumur 5 tahun bernama Zayn (tidak ikut berfoto karena sedang main diluar), dan 1 orang putri bernama Arsyila yang baru berusia 4 bulan.
Rino sejak kecil sudah yatim piatu, dan dibesarkan oleh ortu asuh di Panganak Bukittinggi. Sejak kecil, rino sudah membantu usaha orangtua asuhnya berjualan kerupuk sanjai dipasar atas Bukittinggi, dan memutuskan keluar sekolah sewaktu sudah menginjak kelas 2 SMP di SMP PSM. Tahun 2010 Rino memutuskan untuk merantau mulai dari Medan, Bandung dan Pekanbaru. Pada tahun 2020, Rino bertemu Okta di Medan dan mereka memutuskan untuk menikah, dan Okta syahadat pada tahun 2020 di Bukittinggi sebelum menikah. Setelah syahadat, Okta “diusir” oleh keluarga besarnya.
Sebelum Rino dan Okta ke Bandung, mereka merantau ke Pekanbaru. Pada saat sebelum pilgub, mereka diminta untuk mengganti identitas kependudukan menjadi warga setempat utk proses pilgub. Karena nasib yang belum membaik, akhirnya mereka memilih merantau ke bandung karena Rino pernah merantau ke Bandung dan memiliki saudara jauh di dekat Pasar Kiara Condong.
Hampir setahun mereka sudah di Bandung, hidup dari berjualan sandal anak-anak dan dewasa dengan mengambil barang ke toko di belakang Pasar Baru. Walaupun tidak berlebih, namun kehidupan mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun ternyata musibah itu belum usai. 2 bulan yang lalu Rino mengalami Cikungunya sehingga dia sama sekali tidak bisa berjualan. Pendapatan dari jualan sendal sepatu di kaki lima, di gasibu setiap libur akhir pekan yang biasanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, kini sudah tidak ada lagi. Tivi sudah terjual, kipas angin pun tergadai..dan untuk makan sehari-hari kini Rino dan Okta mengandalkan pembagian jatah MBG yang mereka dapatkan setiap sehari sebanyak 2 porsi, dan juga dari belas kasihan orang2 untuk membeli susu, pampers anak dan sekedar membeli beras.
Setelah 2 bulan sakit Cikungunya, saat ini kondisi Rino sudah cukup kuat, walalupun berjalan masih manggaretek. Dipaksakan juga oleh rino berjualan, walaupun yang laku cuma sepasang dua pasang sandal. Posisi barang jualan masih ada, tapi barang tidak komplit sehingga pembeli berkurang karena barang yang dicari tidak ada. Untuk pengobatan pun tidak bisa menggunakan KIS karena KTP mereka berdua masih domisili di Pekanbaru, dan butuh surat pengantar pindah rumah dari tempat asal. Akhirnya mereka mendaftar BPJS mandiri( dengan iuran 35 ribu/jiwa atau 105 ribu perkeluarga), namun sekarang posisi menunggak sehingga rino hanya mengandalkan obat jamu untuk menghilangkan rasa sakit ketika cikungunya nya kambuh.
Dari penilaian pertemuan yang baru 1x, tidak ada ditemukan adanya indikasi mereka berbohonng, menyembuyikan fakta atau mengarang cerita. Mereka berdua terlihat strong, strugle dan survive, namun kondisi saat ini memang butuh dibantu.
Kebutuhan mendesak :
1. Melunasi tunggakan dan mencari tempat tinggal dengan harga yang lebih ringan.
2. Melunasi BPJS supaya rino bisa berobat dengan fasilitas BPJS.
3. Sepasang suami istri ini terlihat strugle, Okta pun sebelumnya sudah pengalaman bekerja di Indomaret, showroom motor, dan jika anak nya sudah cukup besar, bisa kembali bekerja untuk membantu suaminya.
4. Secara karakter baik, tidak ada drama tangis2an berlebihan menjual kemiskinan, tapi secara pandangan mata dan kesan dari suaranya menahan beban dan tangisan dalam hati.
Demikian laporan hasil pertemuan dengan Rino, Okta dan Arsyila pada pukul 14.30 di rumah kontrakannya di jalan sentral Utara RT.03/RW. 03 kelurahan Sukapura, kecamatan Kiaracondong.
Semoga bermanfaat 🙏🏻
Dari laporan di atas atas saran uda Redesmon (Pembina YMBI) dan restu wakil Ketua bidang sosial YMBI (Indra Utama), MB Amal Jariyah akan menggalang dana Ta’awun / bantuan kepada pasangan dhuafa Rino & Okta, untuk kebutuhan Bayar Kontrakan (6 bulan & 2 bulan tunggakan @Rp 900.000/bulan), BPJS @Rp105.000 /bln (6 bulan & 2 bulan tunggakan), Biaya hidup @Rp 2.000.000/ bulan ( 6 bulan) dan biaya menebus barang yang digadaian seperti TV , kompor gas dll. Diperkirakan dibutuhkan dana (+/-) Rp 20.000.o00. Sampai tgl 30 Mei 2026, sudah terkumpul dana sebesar Rp 1.550.000 yang ditransfer langsung ke rekening Ibu Okta oleh beberapa anggota YMBI
Penggalangan dana akan dilakukan dari tanggal 1 Juni sampai dengan 10 Juni 2026 jam 24.00. Bantuan dapat ditransfer ke Rekening YMBI di BSI dengan no Rek 81 222 4444 8 an Yayasan Minang Bandung Indonesia.
Mari kita ringan beban saudara di bulan Zulhijah ini , Bulan Zulhijah adalah bulan yang sangat dianjurkan untuk berkurban dan melakukan amal ibadah lainnya. Demikian atas perhatian dan bantuan dunsanak MB Kami ucapkan Terima Kasih
Wassalam
Redaksi MBAja!
