Layanan :

email : info@mbamaljariyah.com

Wa : 0813 1125 5600

Daftar Nomer Rekening

  • By operator
  • (0) comments
  • August 8, 2026

SATU KAMPUNG GOTONG-ROYONG MEMBIAYAI PENDIDIKAN ANAK

SATU KAMPUNG BERGOTONG-ROYONG UNTUK MEBIAYAI ANAK KURANG MAMPU !

Assalamu’alaikum Warrahamtulahi Wabrakatuh,

Para Muhsinin/Dermawan dan simpatin MBAja! dimanapun berada,

Dalam beberapa hari ini,  viral sekali di medsos tentang video kunjungan Profesor Tata Dirgantara yang Rektor ITB ke kota Bukittinggi. Prof Tata, mengatakan dia ingin menjemput 3 anak yaitu Nauli Al Ghifari (18) dan Devit Febriansyah (18), siswa SMAN 1 Bukittinggi, serta Deka Fakira Berna dari SMAN 1 Padang, yang diterima di ITB berkat prestasi akademik yang membanggakan, meskipun berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.

Nauli diterima di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB. Ayahnya, Pananuhon, sehari-hari berjualan pakaian bekas di Pasar Atas Bukittinggi dengan omzet sekitar Rp8 juta per tahun dan hanya memiliki tabungan Rp1,5 juta

Devit diterima di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI-ITB). Ia merupakan satu-satunya anak dari Kecamatan Malala yang lolos SNBP tahun ini. Orang tuanya, Julimar dan Doni Afrijal, bekerja sebagai kuli angkut kayu manis dengan penghasilan harian tidak menentu. Hingga warga satu kampung turut bergotong royong membantu biaya keberangkatan Devit ke Bandung melalui iuran sukarela.

Sementara itu, Deka Fakira Berna diterima di Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB, menambah daftar siswa Sumatera Barat yang menembus ITB melalui jalur prestasi nasional.

Ketiganya juga menerima beasiswa KIP-Kuliah (Kartu Indonesia Pintar Kuliah) dari pemerintah, program yang sebelumnya dikenal sebagai Beasiswa Bidikmisi, yang ditujukan untuk membantu mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu agar tetap dapat mengenyam pendidikan tinggi.

Kegiatan ini juga didukung oleh PT Paragon Technology and Innovation. PT Paragon memberikan masing-masing satu unit laptop dan uang sebesar Rp5 juta kepada Nauli dan Devit sebagai bantuan transportasi menuju Bandung

Kehadiran program KIP-K menjadi solusi nyata yang membuka akses pendidikan tinggi seluas-luasnya bagi anak-anak bangsa yang memiliki semangat belajar tinggi namun terbatas secara ekonomi.

Kehadiran pimpinan ITB bersama para dosen dan mitra seperti PT Paragon memperkuat pula komitmen ITB dalam merangkul mahasiswa berprestasi dari berbagai penjuru negeri, sekaligus memastikan bahwa pendidikan tinggi berkualitas adalah hak bagi semua anak-anak di Indonesia.

Demikian isi berita yang kami kutip dari laman,   https://itb.ac.id/berita/rektor-itb-kunjungi-tiga-calon-mahasiswa-berprestasi-asal-sumatera-barat-yang-lolos-snbp

Program Beasiswa yayasan Minang Bandung Indonesia (YMBI) yang sudah menjalankan program beasiswa sejak 2016, sering sekali mendengar dan menjumpai anak-anak dari keluarga yang tidak mampu, yang kebingungan setelah diterima sebagai mahasiswa oleh PT seperti ITB, UI,  Unpad dll. Mereka tidak memiliki ongkos, tidak memiliki uang untuk kos dan biaya hidup selama kuliah. Bagi yang mendapat beasiswa Bidikmisi atau sekarang disebut KIP-K, beasiswa diterima tidak langsung diterima, ada proses yang harus dilewati, sehingga kadang butuh waktu 6 (enam) bulan baru beasiswa bisa cair. Mendapatkan beasiswa Bidikmisi / KIP-K dengan nilai +/- Rp 7.500.000 / semester, tetap belum memadai untuk membiayai biaya kuliah mereka. Untuk kos (kalau tidak dapat asrama) saja mereka butuh Rp 600.000 /org/ bulan, belum makan dan transport dll.  Para penerima beasiswa Bidikmisi / KIP-K mayoritas adalah anak bukan ASN dengan pendapatan sangat rendah (di bawah Rp 3 jt /bulan) bahkan ada yang orang tua yang hanya bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak jelas.

Program Beasiswa YMBI (Mbeasiswa) selama ini  memberikan bantuan Sebagian besar kepada para penerima Bidikmisi ini, dengan alasan mereka masuk kategori 8 asnaf (8 pihak yang boleh menerima zakat maal), sebab dana yang kita dapatkan juga Sebagian dari pengumpulan Zakat maal anggota YMBI dan para simpatisan. Alhamduillah MBeasiswa sudah menyalurkan lebih dari Rp 1.5 Milyar rupiah kepada 100 an Mahasiswa PTN  seperti ; ITB, Unpad, UPI, Unand, UNP, UPI & UIN dan 80 an orang, sudah lulus dan  sudah bekerja di berbagai Perusahaan seperti Pertamina, PMN, LEN, Rekind, BNI, Bank Danamon, PT TBG dll, bahkan ada juga yang mendirikan Perusahaan start up.

Tapi hal yang juga sering menjadi keperihatinan adalah ada kelompok anak2 yang kondisi keluarga mereka tidak bisa masuk kriteria Bidikmisi / KIP-K tapi secara aktual kurang memiliki kemampuan untuk membiayai anaknya kuliah apalagi ke Bandung , Jakarta dll. Mereka adalah anak-anak para  ASN dan TNI Polri yang hanya mengandalkan gaji dan tunjangan dari daerah yang sangat kecil (kasus Sumbar). Anak mereka harus membayar UKT yang cukup besar (di ITB Rp 10 jt an/Semester), sementara pendapatan mereka tidak cukup membiayai keluarga dengan 2-3 anak yang mungkin juga sekolah dan kuliah bersamaan. Dari beberapa kampus seperti ITB memang ada beasiswa dari berbagai Lembaga swasta dan organisasi nirlaba yang memberikan secara rutin. Tapi tetap jumlahnya tidak memadai, yang membutuhkan jauh lebih banyak. Dari pihak PTN juga ada kebijakan pemotongan biaya UKT atau fasilitas pembayaran secara cicilan. Anak ASN khususnya guru dari dulu adalah anak yang potensial untuk maju, tapi sekarang peluang tersebut menjadi kecil akibat kondisi ekonomi dan aturan KIP-K

Terhadap Mahasiswa non Bidikmisi ini YMBI kadang melakukan penggalangan dana secara khusus untuk pelunasan UKT, pembelian Laptop dll. Tapi tentu saja kegiatan ini tidak bisa dilakukan secara masif dan kontinu. Oleh sebab itu perlu dipikirkan penggalangan dana khusus apakah itu berupa infak, sedekah atau wakaf untuk membantu anak-anak pintar dari kelompok masyarakat yang diluar kriteria bidikmisi. Pendidikan adalah salah satu pintu bagi perbaikan ekonomi masyarakat dan juga menjadi tonggak kemajuan suatu bangsa, oleh sebab itu Perhatian terhadap Pendidikan harus menjadi tanggung jawab bersama pemerintah & masyarakat.

Tagline #Satukampungurunan,  #satukampunggotongroyong  untuk membantu kelanjutan Pendidikan anak potensial perlu kita ramaikan dan gaungkan. Dulu para tokoh pergerakan juga bisa bersekolah sampai ke Belanda karena dibiayai oleh keluarga dan orang sekampung seperti yang dialami oleh beberapa tokoh seperti  Tan Malaka, Sutan Syahrir , dr Douwes Dekker dll.

Semoga berita kunjungan Prof Tata ke Bukittinggi, mengingatkan Kembali komitmen kita untuk membantu program beasiswa khususnya program beasiswa YMBI yang sudah kita jalankan hampir 1 (satu) dekade ini. Kalau saat ini kita masih fokus kepada anak-anak dari keluarga tidak mampu, maka kita harus mulai ikut membantu anak-anak dari keluarga ASN. Sebab disamping potensial mereka juga berhak mendapat bantuan dari kita. Mari kita sisihkan infak, sedekah, hibah atau wakaf kita untuk program Beasiswa MB. Berapapun nilai nominal partisipasi kita, tetap bernilai sangat besar pada anak-anak penerimannya. Dan kita berharap penerima saat ini akan menjadi penyokong beasiswa di masa depan.

Wassalam

Salam MBAja !

Jakarta, 13 Juni 2025

Redaktur MBAja.

Share This :
operator

previous post next post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

contact info

Rekening Donasi

Rek YMBI, Bank Mandiri a.n Hendry Harmen, No Rek : 10 1000 779 4447

© 2025 Mb Amal Jariyah All Rights Reserved